10 Ribu KK Di Malaysia Butuh Pembantu Rumah Tangga Saat Ini

Tribun Kota,Malaysia

Pusma sebuah Asosiasi Nasional Sumber Daya Manusia Malaysia menyatakan ada kebutuhan mendesak akan pembantu rumah tangga asing yang dibutuhkan lebih dari 10 ribu kepala keluarga di Malaysia.Presidennya, Zarina Ismail, mengatakan bahwa ada lebih dari 10.000 keluarga yang menderita saat mereka menunggu untuk mendapatkan pembantu rumah tangga.

“Yang menambah kesengsaraan mereka adalah banyak PRT asing yang ada akan segera mengakhiri kontrak kerja mereka dan kembali ke negara mereka,” katanya dalam konferensi pers, Kamis (25 Maret) Seperti dilansir The Star.

Zarina mengatakan ada keluarga yang berjuang untuk mengatasi kekurangan pembantu rumah tangga asing, dan situasinya sangat berat pada orang lanjut usia yang tinggal sendirian atau mereka yang membutuhkan bantuan.Dia mencatat bahwa di antara yang paling terpukul adalah para ibu yang bekerja yang harus bekerja dari rumah dan merawat anak-anak mereka yang masih kecil, orang tua yang lanjut usia atau orang tua yang cacat.

Diketahui bahwa resiko penyebaran Covid-19 akibat masuknya pembantu rumah tangga asing dapat diabaikan.Mengutip statistik resmi yang diungkapkan oleh Menteri Senior Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob, dia mengatakan hanya 0,42% dari 117.449 orang asing yang memasuki negara itu telah dites positif terkena virus antara 24 Juli tahun lalu dan 5 Februari tahun ini.

Artinya hanya ada satu kasus positif dari 238 pendatang, yang tidak signifikan, tambahnya.Zarina mengatakan majikan bersedia menanggung biaya RM3.900 untuk tes Covid-19 dan karantina wajib untuk pembantu yang dibawa masuk.

Dia mengatakan perwakilan telah bertemu dengan Ismail Sabri dan Menteri Sumber Daya Manusia Datuk Seri M. Saravanan untuk menyoroti masalah tersebut.

“Kami telah menulis surat kepada Perdana Menteri juga dan berharap dapat bertemu dengannya segera untuk membahas masalah ini karena keadaan telah mencapai titik kritis,” katanya.

Sementara itu, perwakilan koalisi 1.018 agen pembantu, David Tan, mengatakan pemerintah bisa menerapkan standar operasional prosedur masuknya TKI ke pembantu rumah tangga yang sudah ada.

“Berbeda dengan TKA yang bekerja di sektor lain, PRT datang secara perorangan dan tidak tinggal berkelompok.

“Mereka tidak menimbulkan risiko kesehatan,” katanya.

Ia menambahkan, jika situasi terus berlanjut, ada bahaya pekerja asing tidak berdokumen dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, sehingga menimbulkan risiko kesehatan yang lebih besar bagi pemberi kerja dan masyarakat.

Dia mencatat bahwa petisi online yang dibuat tiga minggu lalu oleh koalisi bagi pemerintah untuk mengizinkan masuknya pembantu rumah tangga telah mengumpulkan lebih dari 4.500 tanda tangan dari keluarga dan agen pembantu yang mengalami kesulitan.

Dilansir The Star juga bahwa Presiden Asosiasi Pembantu Majikan Malaysia (Mama) Engku Ahmad Fauzi Engku Muhsein mengatakan kekurangan akut pekerja rumah tangga asing di tengah pandemi Covid-19 adalah seruan bagi pemerintah untuk menjadikan pekerjaan itu sebagai profesi yang berkualitas.

Dia mengatakan ini akan mendorong penduduk setempat untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga profesional yang tinggal di dalam atau penuh waktu.

“Bekerja sebagai pembantu rumah tangga seharusnya tidak menjadi pekerjaan terakhir yang tidak disukai,” katanya.Ada pembekuan masuknya pembantu rumah tangga asing sejak Maret tahun lalu ketika perbatasan ditutup untuk menahan penyebaran Covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *