BALITTRO : Cengkeh Dapat Cegah Kanker Stadium Awal !!

Tribun Kota,Bogor.

Tanaman Satu ini yang disebut Orang sumatera Bungeu Lawang (Cengkeh) siapa sangka dapat menjadi Obat penangkal Kanker di stadium awal,Hasil Penelitian Balittro Kementerian Pertanian sudah membuktikannya.Cengkeh merupakan tanaman tahunan berkayu menyerbuk silang,  tingginya dapat mencapai > 30 m tergantung umur tanaman. Bentuk kanopi kerucut silindris sampai membulat, Tanaman ini mampu bertahan hidup hingga lebih dari 100 tahun dan tumbuh dengan baik di daerah tropis dengan ketinggian sampai 1000 meter di atas permukaan laut (dpl). Tanaman cengkeh memiliki 4 jenis akar yaitu akar tunggang, akar lateral, akar serabut dan akar rambut. Batang cengkeh tunggal atau membagi 2-3, berwarna coklat. Daun dari tanaman cengkeh merupakan daun tunggal yang kaku dan bertangkai sedang sampai panjang dengan panjang tangkai daun sekitar 2 3 cm. Daun cengkeh berbentuk elip lanset sampai lonjong lebar dengan bagian terlebar di tengah sampai menuju ujung daun, bentuk ujung dan pangka daun lancip smpai runcing, tepi rata sampai berombak, tulang daun menyirip, panjang daun 6 13 cm dan lebarnya 2,5 5 cm. Daun tua berwarna hijau sampai hijau delap, sedangkan warna daun muda cengkeh bervariasi dari  hijau muda, hijau kemerahan sampai merah. Tanaman cengkeh mulai berbunga setelah berumur 3,5 tahun, tergantung keadaan lingkungannya.

Bunga cengkeh tumbuh dalam bentuk rangkaian/tandan bunga, yang tumbuh pada tunas terminal.  Setiap tandan terdiri dari 2-3 cabang yang bisa bercabang lagi. Jumlah bunga per malai sangat bervariasi tergantung potensi genetik dan kondisi lingkungan. Jumlah bunga dapat mencapai lebih dari 50 kuntum. Tinggi, panjang dan lebar rangkaian bervariasi, tergantung jumlah cabang dan bunga. Tinggi rangkaian dapat mencapai 8 cm, panjang 7 cm dan lebar 4-5 cm.  Bunga cengkeh berwarna hijau muda tetapi berubah menjadi kemerahan sampai merah apabila sudah masak petik. Bentuk bunga bervariasi dari bentuk berpinggang, lurus sampai corong. Panjang tabung bunga 1,5-2,5 cm dengan lebar tabung 0,3-0,6 cm dan diameter mahkota  0,4-0,6 cm.  Bentuk mahkota  lancip sampai membulat. Warna mahkota krem kehiauan sampai krem bercak merah dan merah. Buah cengkeh berbentuk bulat telut panjang, silindris atau oblong dengan ukuran bervariasi panjang lebar dan diameter berwarna merah sampai merah keunguan pada buah yang telah masak/tua. Berat buah dapat mencapai 3,88 g/butir, panjang 2,9 cm dan lebar 1,48 cm. Biji cengkeh dapat mencapai berat 2 g, panjang 2,5 cm atau lebar 1 cm, biji berwarna hijau, hijau kemerahan sampai merah, tergantung varietas.

Manfaat Empiris Bunga cengkeh umumnya digunakan sebagai bumbu masakah (rempah) namun sebagian besar dimanafatkan sebagai campuran rokok kretek.  Bunga kering, daun dan ranting kering juga dimanfaatkan sebaga bahan ramuan minuman kesehatan seperti minuman yang mengandung kayu secang (wedang uwuh).

Selain bunga, cengkeh juga menghasilkan minyak atsiri yang disuling dari bunga, daun dan ranting. Minyak atsiri cengkeh banyak digunakan untuk industri parfum dan obat obatan.  Manfaat kesehatan dari cengkeh sebagai obat tradisional karena memiliki khasiat untuk mengobati sakit gigi, rasa mulas sewaktu haid, reumatik, dan mengatasi pegal linu. masuk angin, sebagai ramuan penghangat badan dan penghilang rasa mual (Nuraini, 2014). Bagian tanaman cengkeh yang banyak dimanfaatkan adalah bunga, tangkai bunga dan daun (Nurdjannah, 2007). Bunga cengkeh yang dikeringkan dapat digunakan sebagai bahan penyedap rokok, rampah dan sumber minyak atsiri. Minyak cengkeh dapat diperoleh dari hasil penyulingan bunga cengkeh kering (cloves bud oil), tangkai bunga cengkeh (cloves stem oil) dan daun cengkeh kering (cloves leaf oil) banyak digunakan sebagai bahan pengharum (aroma), perisa (penyedap masakan), pengawet dan bahan obat obatan, serta pestisida nabati.

Manfaat Ilmiah Cengkeh diketahui memiliki berbagai kandungan senyawa kimia yang memiliki aktivitas biologi. Minyak cengkeh mempunyai efek farmakologi sebagai stimulan, anestetik lokal, karminatif, antiemetik, antiseptik, dan antispasmodik. Minyak cengkeh juga bersifat kemopreventif atau anti-karsinogenik. Hasil uji telah menunjukkan bahwa cengkeh membantu dalam mengendalikan kanker paru pada tahap awal.   Minyak atsiri cengkeh yang mengandung eugenol dan bcaryophyllene telah dimanfaatkan sebagai antiseptik dan analgesik pada pengobatan gigi dan mulut, antijamur, antibakteri, antioksidan, antikarsinogen, dan anti radikal bebas. Senyawa biokimia yang ditemukan dalam cengkeh, seperti fenilpropanoid memiliki sifat antimutagenik. Fenilpropanoid mampu mengontrol efek mutagenik secara signifikan. Sifat antioksidan pada cengkeh mampu melindungi hati (bersifat hepatoprotektif), sangat membantu dalam menangkal radikal bebas dan lipid pada organ hati,, membantu mengatasi penurunan daya ingat akibat stres oksidatif.

Senyawa kimia dalam bunga cengkeh yang berfungsi sebagai antioksidan yaitu senyawa fenolik (asam galat), flavonol glukosida, komponen fenol (eugenol, asetil eugenol), dan tanin. Aktivitas antioksidan senyawa bioaktif eugenol lebih tinggi dibandingkan dengan hydroxyanisole butylated, BHT, trolox, dan αtocopherol, diukur menggunakan beberapa metode, yaitu DPPH, ABTS, N,N-dimethyl-p-phenylenediamine, CUPRAC, dan ferri reducing assay. Minyak cengkeh, ekstrak etil asetat maupun senyawa asam oleanolat bersifat anti kanker, karena bersifat sitotoksik terhadap beberapa jeni sel kanker manusia.  Ekstrak etil asetat cengkeh mampu menginduksi apoptosis pada dosis yang sesuai. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak cengkeh dapat dimanfaatkan sebagai ramuan terapi baru untuk pengobatan kanker kolorektal. Selain itu, senyawa utama eugenol juga terbukti memiliki aktivitas antiproliferatif terhadap beberapa sel kanker. Aktivitas eugenol secara signifikan lebih tinggi dari asam oleanat dan ekstrak etil asetat. Cengkeh juga bermanfaat untuk mengatasi osteoporosis.

Ekstrak hidrokarbon dari cengkeh termasuk senyawa fenolik seperti eugenol dan turunannya seperti flavon, isoflavon, dan flavonoid sangat membantu menjaga kepadatan tulang dan kandungan mineral tulang serta meningkatkan kekuatan tulang. Eugenol dari cengkeh dapat meningkatkan proliferasi sel osteoblas (sel yang bertanggung jawab dalam proses pembentukan tulang). Selanjutnya cengkeh juga memiliki sifat anti-inflamasi dan penghilang rasa sakit. Studi pada ekstrak cengkeh yang diberikan kepada tikus percobaan menunjukkan eugenol mampu mengurangi peradangan karena edema. Eugenol memiliki kemampuan untuk mengurangi rasa sakit dengan menstimulasi reseptor rasa sakit. Rasa nyeri pada tulang belakang umumnya dirasakan penderita osteoporosis lanjut usia. Senyawa eugenol pada cengkeh berfungsi sebagai analgesik yang sangat membantu mengurangi rasa sakit. Selain bersifat sebagai analgesik, eugenol dari minyak cengkeh juga memiliki aktivitas anti-inflamasi. Sifat anti bakteri dan analgesik menyebabkan cengkeh banyak dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit gusi seperti gingivitis dan periodontitis. Ekstrak bunga cengkeh secara signifikan mengontrol pertumbuhan patogen oral penyebab berbagai penyakit mulut.

Cengkeh juga dapat digunakan untuk mengatasi sakit gigi karena sifat-sifatnya yang membunuh rasa sakit. Selain itu, cengkeh juga memiliki aktivitas untuk mengatasi diabebets. Ekstrak dari cengkeh mampu berfungsi seperti insulin dengan cara tertentu dan membantu mengendalikan kadar gula darah.  Eugenol juga memiliki aktivitas antibakteri spektrum luas, antara lain terhadap bakteri yang penyebab penyakit lambung. Eugenol dan cinnamaldehyde pada 2 μg/ml mampu menghambat pertumbuhan 31 strain Helicobacter pylori setelah 9 jam dan 12 jam inkubasi, dan lebih lebih kuat dari amoxicillin dan tanpa menimbulkan resistansi. Selain sebagai antioksidan dan antibakteri, cengkeh juga memiliki aktivitas antivirus. Eugeniin, senyawa yang diisolasi dari cengkeh, diuji terhadap strain virus herpes dan menunjukkan hasil yang efektif pada konsentrasi 5 μg/ml. Pengujian antiherpes pada tikus menunjukkan bahwa ekstrak air dari bunga cengkeh menunjukkan aktivitas antiherpes simplex tipe 1 (HSV-1) yang kuat ketika dikombinasikan dengan acyclovir. 

Di dalam Ayurveda, bunga cengkeh kering mengandung senyawa yang membantu dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan meningkatkan jumlah sel darah putih. Rempah seperti cengkeh dan pala telah diketahui memiliki sifat aphrodisiak. Percobaan menggunakan ekstrak cengkeh dan pala dibandingkan dengan obat standar, baik cengkeh maupun pala, menunjukkan efek yang positif. Selain memiliki manfaat kesehatan bagi manusia, cengkeh juga memiliki aktivitas sebagai pestisida. Produk cengkeh berupa daun, gagang bunga, minyak cengkeh, dan eugenol bersifat sebagai fungisida, bakterisida, nematisida, dan insektisida karena dapat menekan, bahkan mematikan pertumbuhan miselium jamur, koloni bakteri, dan nematoda. Senyawa turunan eugenol yaitu metil eugenol yang dapat diperoleh dengan proses sintesa dari eugenol mempunyai aroma khas serangga betina (sex pheromon). Karena itu, senyawa tersebut banyak digunakan sebagai atraktan untuk menarik lalat jantan dalam pengendalian lalat buah. Sebagai fungsida, minyak cengkeh cukup efektif mengatasi gangguan pada tanaman akibat patogen tular tanah, antara lain P. capsici, R. lignosus, Sclerotium sp., dan F. oxysporum. Sebagai pengawet, minyak cengkeh memiliki daya hambat terhadap berbagai jenis jamur seperti Mucor sp., Microsporum gypseum, Fusarium monoliforme NCIM 1100, Trichophytum rubrum, Aspergillus sp., dan Fusarium oxysporum MTCC 284. Senyawa aktif yang bertanggung jawab sebagai antijamur adalah eugenol karena mampu menimbulkan lisis pada spora dan miselia. Eugenol dapat mengakibatkan kerusakan membran dan deformasi makromolekul. Minyak cengkeh dan eugenol memiliki aktivitas sebagai nematisida, terutama terhadap Melodogyne incognita dan Rodopholus similis dalam konsenterasi yang tinggi, yaitu 1-10%. Sebagai insektisida, eugenol pada konsenterasi 10% dapat menyebabkan A. fasiculatus tidak menghasilkan keturunan. Selain itu, minyak cengkeh dapat juga dimanfaatkan sebagai obat anestesi dalam penangkapan ikan hias dari tempat asalnya maupun selama proses penanganan, pemilihan, dan transportasinya sebagai alternatif pengganti larutan sianida. Minyak cengkeh mempunyai beberapa keunggulan sebagai anestesi ikan dibandingkan bahan lain yang terbuat dari bahan kimia termasuk MS. 222, quinaldine, dan benzocain. Berbagai bukti ilmiah tentang aktivitas biologi cengkeh menunjukkan bahwa cengkeh merupakan tanaman yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Cengkeh tidak saja sebagai pengawet makanan dan sumber pangan kaya akan senyawa antioksidan, tapi juga produk kesehatan yang telah terbukti secara ilmiah. Ini merupakan peluang bagi pemanfaatan cengkeh untuk mengantisipasi berkurangnya penggunaan komoditas tersebut dalam industri rokok kretek. Hasil studi tersebut sekaligus membuktikan mengapa cengkeh telah digunakan selama berabad- abad.

Kandungan Kimia Tanaman cengkeh mengandung rendemen minyak atsiri dengan jumlah cukup besar, baik dalam bunga (10-20%), tangkai (5-10%) maupun daun (1-4%) (Nurdjannah, 2007). Minyak atsiri cengkeh mengandung eugenol, ß-caryophyllen, eugenil acetate, humulene.  Minyak atsiri dari bunga cengkeh memiliki kualitas terbaik karena hasil rendemennnya tinggi dan mengandung eugenol mencapai 80–90%. Kandungan minyak atsiri bunga cengkeh didominasi oleh eugenol dengan komposisi eugenol (81,20%), trans-β-kariofilen(3,92%), α-humulene (0,45%), eugenol asetat (12,43%), kariofilen oksida (0,25%) dan trimetoksi asetofenon (0,53%) (Prianto, dkk. 2013). Eugenol (C10H12O2) adalah senyawa berwarna bening hingga kuning pucat, kental seperti minyak, bersifat mudah larut dalam pelarut organik dan sedikit larut dalam air. Eugenol memiliki berat molekul 164,20 dengan titik didih 250–255ºC (Bustaman, 2011). Eugenol merupakan senyawa yang terdapat pada minyak atsiri cengkeh dan berfungsi sebagai zat antifungi dan antibakteri. Mekanisme kerja eugenol sebagai zat antifungi dimulai dengan penetrasi eugenol pada membran lipid bilayer sel jamur yang mengakibatkan terjadinya penghambatan sintesis ergosterol dan terganggunya permeabilitas dinding sel jamur sehingga terjadi degradasi dinding sel jamur, dilanjutkan dengan perusakan membran sitoplasma dan membran protein yang menyebabkan isi dari sitoplasma keluar dari dinding sel jamur. Apabila hal ini terus-menerus terjadi, lama kelamaan sel jamur akan mengalami penurunan fungsi membran dan ketidakseimbangan metabolisme akibat gangguan transport nutrisi hingga menyebabkan sel lisis dan pertumbuhan jamur menjadi terhambat (Brooks, dkk., 2008) (Di tulis Oleh Nurliani Bermawie).(RED).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *