Balittro : Jahe Bisa Sebagai Obat Anti Tumor

Tribun Kota,Advetorial.

Balittro kali ini merilis tanaman rempah dan obat yang bisa membantu menjaga kesehatan,Salah satunya Jahe Merah.Jahe merah termasuk tanaman tahunan, berbatang semu, dan berdiri tegak dengan ketinggian dapat mencapai > 1 m. Secara morfologi, tanaman jahe terdiri atas akar, rimpang, batang, daun, dan bunga. Akar tumbuh dari bagian bawah rimpang, sedangkan tunas akan tumbuh dari bagian atas rimpang. Batang pada jahe merupakan batang semu, tumbuh tegak, berbentuk bulat pipih, tidak bercabang tersusun atas seludang-seludang dan pelepah daun yang saling menutup sehingga membentuk seperti batang, berwarna hijau pucat, tetapi pada bagian pangkal berwarna kemerahan.

Bagian luar batang berlilin dan mengilap, serta mengandung banyak air/succulent. Daun terdiri atas pelepah dan helaian. Pelepah daun melekat membungkus satu sama lain sehingga membentuk batang. Helaian daun tersusun berseling, tipis berbentuk bangun garis sampai lanset, berwarna hijau gelap pada bagian atas dan lebih pucat pada bagian bawah, tulang daun sangat jelas, tersusun sejajar. Panjang daun berkisar 10-25 cm dan lebar 1-2,5 cm. Bagian ujung daun agak tumpul dengan panjang lidah 0,3 – 0,6 cm. Permukan atas daun terdapat bulubulu putih. Ujung daun meruncing, pangkal daun membulat atau tumpul. Batas antara pelepah dan helaian daun terdapat lidah daun (Ajijah et al. 1997). Jika cukup tersedia air, bagian pangkal daun ini akan ditumbuhi tunas dan menjadi rimpang yang baru. Rimpang jahe merupakan modifikasi bentuk dari batang yang tumbuh di dalam tanah secara horizontal pada kedalaman yang dangkal, bercabang tidak teratur, ditutupi dengan sisik tipis, berdaging, bernas, berbuku-buku. Bagian luar rimpang ditutupi dengan daun yang berbentuk sisik tipis, tersusun melingkar. Warna kulit rimpang merah dan warna daging putih. Bunga pada tanaman jahe terletak pada ketiak daun pelindung.

Bentuk bunga bervariasi: panjang, bulat telur, lonjong, runcing, atau tumpul. Bunga berukuran panjang 2 – 2,5 cm dan lebar 1 – 1,5 cm. Bunga jahe panjang 30 cm berbentuk spika, bunga berwarna putih kekuningan dengan bercak bercak ungu merah. Rugayah (1994) menyatakan bunga jahe terbentuk langsung dari rimpang, tersusun dalam rangkaian bulir (Spica) berbentuk silinder. Setiap bunga dilindungi oleh daun pelindung berwarna hijau berbentuk bulat telur atau jorong. Jahe merupakan tanaman berkelamin dua (hermaprodit). Pada masing-masing bunga terdapat dua tangkai sari, dua keping kepala sari dan satu bakal buah. Diameter serbuk sari berkisar antara 77-104 µm dengan dinding yang tebal. Kepala putik ujungnya bulat berlubang berukuran 0.5 mm, dikelilingi oleh bulu-bulu yang agak kaku (Melati, 2011). Jahe merupakan tanaman yang bersifat self incompatible (Dhamayanthi et al. 2003) dan posisi kepala putik lebih tinggi dibandingkan kepala sari (Pillai et al. 1978), struktur seperti ini mengakibatkan sistem penyerbukan jahe adalah menyerbuk silang.

Buah berbentuk bulat panjang, berkulit tipis berwarna merah yang memiliki tiga ruang berisi masing masing banyak bakal biji berwarna hitam dan memiliki selaput biji (Rugayah 1994). Tetapi pada jahe yang ditanam secara komersial jarang berbuah dan berbiji yang kemungkinan disebabkan karena tepung sari jahe steril. Manfaat Empiris Rimpang jahe telah dimanfaatkan sebagai bumbu makanan, dan telah dianggap sebagai tanaman obat yang aman [6] dan digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.Rimpang adalah bagian tanaman jahe yang memiliki nilai ekonomi dan dimanfatkan untuk berbagai keperluan antara lain sebagai rempah, bumbu masak, bahan baku obat tradisional, makanan dan minuman, dan parfum. Rimpang jahe merah dapat memberikan rasa hangat/pedas. Selain rimpang, minyak atsiri dari rimpang memiliki nilai ekonomi tinggi. Minyak atsiri yang disuling dari rimpang jahe banyak dimanfaatkan dalam industri parfum, kosmetik, esen, farmasi dan flavoring agent. Secara tradisional, jahe banyak dimanfaatkan untuk mengobati penyakit rematik, asma, stroke, sakit gigi, diabetes, sakit otot, tenggorokan, kram, hipertensi, mual, demam dan infeksi (Ali et al. 2008; Wang dan Wang 2005; Tapsell et al. 2006).

Manfaat Ilmiah Kajian ilmiah mengenai khasiat jahe telah banyak dilakukan. Review lengkap telah dipublikasikan dalam berbagai jurnal (Rahmani et al., 2014) (Gambar 1). Jahe segar dengan konsentrasi tinggi dapat menstimulasi sel mukosa untuk memproduksi IFN-β yang berkontribusi untuk menangkal infeksi virus. Jahe segar efektif melawan pembentukan plak yang diinduksi oleh HRSV pada epitel saluran napas dengan menghalangi pelekatan virus dan internalisasi. Hasil kajian ilmiah senyawa bioaktif gingerol yang terkandung di dalam minyak jahe memiliki efek sebagai anti-inflamasi, antipiretik, gastroprotective, cardiotonic dan antihepatoksik (Bhattarai et al. 2001; Jolad et al. 2004), antioksidan, anti-kanker, anti-inflamasi, antiangiogenesis dan anti-artherosclerotic (Shukla & Singh 2007). Senyawa paradol memiliki aktivitas anti oksadan dan anti kanker (Park et al., 2006) dan anti mkroba (Galal, 1996). Shogaol sebagai anti oksidan, anti inflamasi (Park et al., 2006) dan senyawa turunan [6] shogaol memiliki aktivitas sebagai anti kanker melalui anti invasi dan anti proliferasi (Liu et al., 2010; Choudhury et al., 2010, Weng et al., 2010). Zingerone sebagai anti tumor, anti bakteri dan anti inflamasi (Shin et al., 2005; Aeschbach et al., 1994; Chung et al., 2009; Kim et al., 2010; Marjunatha et al., 2013).

Jahe juga mengandung senyawa zerumbone yang berfungsi sebagai anti tumor dan anti mikroba. Senyawa 1-dehydro –(10) gingerdione memiliki aktivitas sebagai pengatur gen gen yang menyebabkan inflamasi (Lee et al., 2012). Senyawa terpenoids pada rimpang jahe mampu menginduksi apoptosis (Liu et al., 2012) dan senyawa flavonoids sebagai anti oksidan (Rahman et al., 2011). Selain itu jahe juga memiliki aktivitas anti virus, terutama virus (Chang et al., 2013). Kandungan Kimia Rimpang jahe mengandung komponen volatile (minyak atsiri) dan komponen non volatile (tidak menguap).

Minyak atsiri atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik Minyak atsiri jahe merah berwarna merah. Lebih dari 400 senyawa kimia yang terkandung dalam minyak atsiri dari rimpang jahe. Komponen volatile terdiri dari oleoresin(4.0-7.5%), memberikan aroma jahe (minyak atsiri) dengan komponen terbanyak adalah zingiberen dan zingiberol, dan komponen non volatile (shogaols dan gingerols) pada jahe memberikan rasa pedas. Komponen phenol pada minyak jahe mengandung gingerol dan shogaol, dan senyawa lainnya dengan konsentrasi (1-10%) adalah 6-paradol, 1-dehydrogingerdione, 6- gingerdione dan10- gingerdione, 4- gingerdiol, 6-gingerdiol, 8-gingerdiol, 10-gingerdiol, dan diarylheptanoids.

Komponen terpen meliputi zingiberene, β-bisabolene, α-farnesene, β-sesquiphellandrene, dan α-curcumene. Gingerol merupakan senyawa identitas pada jahe, sekaligus sebagai senyawa bioaktif utama, memiliki rumus kimia 1-[4-hidroksi-3- methoksifenil]-5-hidrokasi-alkan-3-ol dengan rantai samping yang bervariasi. Gingerol merupakan senyawa identitas untuk tanaman jahe dan berfungsi sebagai senyawa yang berkhasiat obat. Kandungan gingerols dapat mencapai 23-25% dan shogaol (18-25%) merupakan komponen tetinggi di dalam minyak jahe. Selain komponen volatile dan non volatile, pada jahe juga terkandung sejumlah nutrisi, seperti vitamin, mineral, protein, karbohidrat dan lemak yang sangat bermanfaat untuk kesehatan. (Nurliani Bermawie)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *